Masuk kawasan Prigen, udara sejuk mulai terasa. Dihangatkan sinar mentari pagi yang menyeruak di sela-sela pepohonan. Demikian juga saat memasuki area Griya Samadhi Vinsensius (GSV). Sejuk angin membawa riuh merdu suara burung-burung bersahutan.
Griya Samadhi Vincentius merupakan rumah retret dan pusat pembinaan bernuansa alam di daerah dataran tinggi Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya di Raya Ngemplak Jalan Raya No.2, Plembon. Diperlukan 55 menit dari kota Malang melalui tol.
Kerinduan untuk menyatu dengan Sang Pencipta dan alam semesta dalam keheningan pun terjawab, ketika menjejakkan kaki di area gua Maria dan tugu-tugu jalan salib yang tertata di kawasan hijau yang asri dan sangat alami. Aku diam. Kubiarkan alam menyentuhku melalui anginnya yang tak berisik.
Tempat ini berada di kawasan yang sejuk di lereng pegunungan. Para peziarah disambut dengan udara segar, pepohonan rindang, dan suasana yang menenangkan. Tidak ada hiruk-pikuk yang mengganggu, hanya suara desir angin, nyanyian burung, dan suara langkah kaki yang perlahan menyusuri jalan-jalan setapak.
Di Griya Samadhi Vinsensius, alam menjadi bagian dari pengalaman doa itu sendiri.
Warisan Iman dari Para Misionaris
Keheningan yang kini dinikmati para peziarah di Griya Samadhi Vincentius merupakan buah karya para imam Kongregasi Misi yang mewarisi semangat pelayanan Santo Vinsensius a Paulo. Zaman berkembang semakin cepat, ruang hening tempat umat dapat beristirahat, berdoa, dan memulihkan relasi dengan Tuhan pun menjadi perhatian khusus.
Griya Samadhi Vinsensius ini diresmikan pada tahun 1991 oleh Romo Richard McCullen, CM, seorang imam misionaris asal Belanda yang selama bertahun-tahun berkarya di Indonesia. Kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan panjang pelayanan para misionaris yang menyediakan ruang bagi pertumbuhan kehidupan rohani.
Lokasinya di lereng pegunungan yang sejuk, jauh dari keramaian kota, menawarkan suasana yang mendukung doa dan kontemplasi. Alam yang asri dipandang sebagai sahabat perjalanan rohani yang membantu manusia membuka hati terhadap kehadiran Tuhan.
Lebih dari tiga dekade kemudian, visi tersebut tetap hidup. Ribuan umat datang silih berganti untuk mencari ketenangan di tempat yang dibangun dengan semangat doa dan permenungan ini.
Menapaki Jalan Salib di Tengah Keheningan

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah menapaki Jalan Salib yang membentang di kawasan GSV. Setiap pemberhentian mengajak peziarah berhenti sejenak, merenungkan sengsara Kristus, sekaligus melihat kembali perjalanan hidupnya sendiri.
Jalan setapak yang dinaungi pepohonan menghadirkan suasana kontemplatif yang sulit ditemukan di tengah kehidupan sehari-hari. Langkah demi langkah terasa semakin khusuk, hati benar-benar dibawa untuk sungguh hadir pada setiap peristiwa yang direnungkan.
Keasrian alam menjadi daya tarik yang sulit dipisahkan dari Griya Samadhi Vinsensius. Pepohonan yang tumbuh rindang menghadirkan keteduhan alami. Rumput hijau membentang di berbagai sudut kawasan. Udara pegunungan yang bersih membuat siapa pun ingin berlama-lama menikmati suasana.
Di antara ketenangan itu, rusa dan kijang tampak bermain bebas. Mereka berjalan, berlari kecil, atau sekadar mencari makan tanpa terusik oleh kehadiran manusia. Ada pemandangan yang menghangatkan hati ketika melihat satwa-satwa itu hidup berdampingan dengan para peziarah yang datang untuk berdoa.
Di sudut lain kawasan, kami disuguhkan tempat hening untuk berdoa secara khusus di Gua Maria. Dalam diam kami bawa syukur, harapan, dan pergumulan hidup masing-masing. Satu hal menarik, kehadiran manusia yang berdoa dan satwa yang hidup bebas seolah membentuk harmoni yang alami. Semuanya hadir dalam ketenangan yang sama, tanpa saling mengganggu.
Pemandangan tersebut mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa tunggal bumi, melainkan bagian dari ciptaan yang hidup bersama makhluk-makhluk lainnya.
Berdiam di Gua Maria

Gua Maria menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi peziarah. Di tempat ini suasana hening terasa semakin kuat. Kami duduk dalam doa pribadi, menyalakan lilin, dan masuk dalam keheningan yang dalam.
Membiarkan angin berhembus dan irama alam kicauan burung dari kejauhan. Keheningan yang menghadirkan ruang yang luas bagi setiap orang untuk membawa syukur, harapan, kegelisahan, maupun pergumulannya kepada Tuhan.
Di hadapan Gua Maria, orang menyadari bahwa doa cukup berupa sebuah kehadiran, kesediaan untuk diam, dan hati yang terbuka.
Sering kali manusia datang ke tempat retret untuk mencari jawaban. Namun, tidak jarang yang ditemukan justru kemampuan untuk mendengar. Mendengar suara hati sendiri, mendengar sesama, dan mendengar bisikan Tuhan yang selama ini tertutup oleh kebisingan dunia.
Griya Samadhi Vinsensius mengajarkan bahwa alam dapat menjadi guru spiritual yang sederhana. Pohon-pohon mengajarkan keteguhan. Angin mengajarkan kelembutan. Jalan setapak mengajarkan kesabaran. Sementara rusa dan kijang yang hidup bebas mengingatkan bahwa kedamaian lahir ketika manusia mampu hidup selaras dengan ciptaan lainnya.
Di tempat ini, alam seakan menjadi kitab terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja yang bersedia menyatu bersama alam.
Pulang Membawa Rindu Kembali
Meninggalkan Griya Samadhi Vinsensius terasa seperti membawa pulang sesuatu yang tak kasatmata, sebuah ketenangan yang perlahan mengendap di dalam hati. Doa pun tumbuh di antara pepohonan yang rindang, di sepanjang Jalan Salib yang sunyi, di hadapan Gua Maria yang teduh, dan di tengah rusa-rusa yang bermain bebas di alam.
Jika ingin lebih lama menikmati keheningan bersama alam, kita dapat menginap di Villa Emaus, wisma retret, juga camping ground yang tersedia di sana. Suasana alam dan keheningannya akan membawa kerinduan untuk kembali.
Griya Samadhi Vinsensius merupakan warisan iman yang ditanam oleh para misionaris puluhan tahun lalu, lalu bertumbuh bersama pepohonan, jalan salib, Gua Maria, dan satwa-satwa yang hidup damai di dalamnya.
Di tempat syahdu ini doa-doa bergema melalui alam yang terus memuliakan Sang Pencipta. Hanya butuh berhenti sejenak, berdiam, lalu membiarkan alam membimbingnya menuju keheningan. Salam Lestari! (Yy)
Referensi :
https://www.kompasiana.com/yycorjesu/6a349a88ed6415113922e4a2/sejenak-berdoa-bersama-alam-di-griya-samadhi-vinsensius-prigen?page=all

